jump to navigation

Hati-hati dengan permainan drama Mei 1, 2008

Posted by aguscen in Hypnotherapy.
trackback

halo teman-teman pembaca,

Baru-baru ini ada seorang klien yang menemui saya, klien saya ini mengeluh bahwa dia selalu mendengar ada suara-suara yang meminta dia untuk bunuh diri.

karena suara-suara ini sangat mengganggu, maka kami memutuskan untuk mempercepat pertemua terapi kami, nah, pada saat itu tiba, kami berbincang-bincang sambil mendapatkan gambaran apa yang bisa saya bantu dari klien saya ini, sebuatlah namanya Amin (bukan nama sebenarnya). Untuk menjaga privasi klien saya juga mengubah sedikit cerita latar belakang, namun kasus ini memang nyata.

Setelah beberapa saat, saya memulai sesi terapi dengan menggunakan hypnosis, sebelumnya ada dua kejadian yang mirip yang membuat Amin mencoba untuk bunuh diri. Dia selalu mendengar, ‘udah, ngapain sih lu hidup lagi?, lu tuh bukan siapa-siapa, percuma, udah abisin aja sekarang mumpung lagi di lantai 3, mumpung lagi di jalan, tabrakin aja kendaraan lu…’ Suara itulah yang sering didengar oleh Amin, bersyukur, karena iman Amin cukup kuat, dia tetap bertahan.

Setelah berhasil masuk ke kondisi hypnosis, saya mulai menggali kapan perasaan seperti ini pertama kali muncul dengan menggunakan teknik Age regression (regresi usia).

Ternyata dia menemukan bahwa pertama kali dia merasakan perasaan yang sama yang timbul karena dua kejadian yang dialami dan menyebabkan Amin ingin bunuh diri adalah saat dia sedang bermain sandiwara dengan dua orang kakaknya.

Kira-kira ceritanya begini, saat dia masih sangat kecil, Amin dan dua orang kakaknya bermain ‘pahlawan’, Amin menjadi jagoan dan kakak yang satu menjadi orangtuanya jagoan, yang satu lagi tidak jelas. Nah, orangtua jagoan ini, ceritanya disiksa oleh penjahat, dan si jagoan ini tidak bisa melakukan apa-apa, sehingga dalam cerita ini, orangtua jagoannya meninggal.

Begitu dia melihat ‘orangtua’nya meninggal, spontan dia menangis keras dengan sangat terpukul, karena bingung kakaknya menghentikan permainan drama ini, dan membantu Amin untuk berhenti menangis.

Pada saat itu, dia merasa sangat kesal pada dirinya sendiri, marah pada dirinya sendiri, takut ditinggal, katanya jagoan, kok ga bisa menolong. Itulah yang dirasakan oleh Amin saat itu. Perasaan inilag yang berulang ketika dua kejadian yang terjadi dalam hidupnya itu dan mendorong dia untuk menyelesaikan perjalanan hidupnya.

Setelah menemukan ‘akar’ masalahnya ini, saya membantunya untuk menyelesaikan. Akhirnya dia pun sudah tidak mendengar suara-suara seperti itu lagi.

yah, saya doakan Sukses selalu untuk ‘Amin’ Semoga Tuhan Selalu Memberkatinya.

 

salam Hangat,

 

Agus Setiawan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: